Ruwatan Tani Bentuk Ikhtiar Batin dan Taubat Ekologis

Minggu, 11 Januari 2026 16:00 WIB

Penulis:Andri

Editor:Andri

WhatsApp Image 2026-01-11 at 15.20.28.jpeg
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lamongan melalui Lembaga Pengembangan Pertanian NU (LPPNU) bekerja sama dengan Lesbumi NU PCNU Lamongan menggelar kegiatan Ruwatan Tani di Aula MWC NU Solokuro Minggu (11/1/2026) dan dihadiri berbagai unsur pengurus NU, petani, serta tokoh budaya dan spiritual.

LAMONGAN I halojatim — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lamongan melalui Lembaga Pengembangan Pertanian NU (LPPNU) bekerja sama dengan Lesbumi NU PCNU Lamongan menggelar kegiatan Ruwatan Tani sebagai respons atas maraknya wabah hama tikus yang kerap muncul di tengah masyarakat Lamongan yang sebagian besar berprofesi sebagai petani. Kegiatan ini menjadi bagian komitmen PCNU Lamongan dalam Membersamai Ummat, Memenangi Masa Depan. Dilaksanakan di Aula MWC NU Solokuro  Minggu (11/1/2026) dan dihadiri berbagai unsur pengurus NU, petani, serta tokoh budaya dan spiritual.

 

Ketua PCNU Lamongan, Dr. (HC) Syahrul Munir, menegaskan bahwa ruwatan tani tidak dapat dipahami semata sebagai ritual simbolik, melainkan sebagai bagian dari ikhtiar komprehensif NU dalam menjawab problem nyata yang dihadapi masyarakat pertanian. “Setiap musim panen dan menjelang musim tanam, masyarakat kita selalu dihadapkan pada persoalan berulang, mulai dari ledakan hama tikus, rusaknya ekosistem sawah, hingga ketidakstabilan hasil produksi. Ruwatan tani ini kami letakkan sebagai ikhtiar batin yang menyertai ikhtiar dzohir yang telah dilakukan para petani,” tegas Syahrul Munir.

 

Ia menambahkan bahwa dalam tradisi NU, upaya lahiriah seperti pengendalian hama secara teknis perlu dilengkapi dengan kesadaran spiritual dan etika ekologis agar tercipta keseimbangan antara manusia dan alam.

“Ketika ikhtiar teknis sudah dijalankan mulai dari pola tanam, sanitasi lahan, hingga metode pengendalian hama, maka NU memandang perlu menghadirkan ikhtiar batin sebagai penguat kesadaran kolektif, bahwa ada relasi moral dan spiritual antara manusia, alam, dan Sang Pencipta,” lanjutnya.

 

Menurutnya , PCNU Lamongan menekankan bahwa ruwatan tani ini harus dimaknai sebagai momentum taubat ekologis. Yakni kesadaran bersama untuk memperbaiki cara manusia memperlakukan lingkungan. “Ruwatan tani ini adalah komitmen bersama untuk taubat ekologis. Merawat bumi, menjaga keseimbangan alam, dan melestarikan lingkungan adalah bagian dari maqāṣid syarī‘ah, karena menjaga kehidupan (ḥifẓ al-nafs) dan keberlanjutan sumber daya (ḥifẓ al-bi’ah) adalah tanggung jawab keagamaan,” ujar Syahrul.

 

Sebagai pelaksana kegiatan, LPPNU dan Lesbumi NU PCNU Lamongan memaknai ruwatan tani sebagai ruang perjumpaan antara pengetahuan pertanian, kearifan budaya, dan nilai-nilai spiritual Islam Nusantara. Kegiatan ini dipandang sebagai ikhtiar batin kolektif setelah berbagai upaya lahiriah dilakukan masyarakat untuk menanggulangi banjir wabah hama tikus.

 

Melalui kegiatan ini, PCNU Lamongan mengharapkan terbangunnya kesadaran bersama bahwa persoalan pertanian tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyangkut etika, spiritualitas, dan tanggung jawab ekologis. Ruwatan tani diharapkan menjadi tradisi berkelanjutan yang menguatkan harmoni antara petani, alam, dan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan masyarakat Lamongan. (yon)