SFP 2020 Kembali Digelar, Ajak Desainer Kembangkan Green Fashion

Asih - Senin, 20 Januari 2020 16:23 WIB
Karya-karya desainer Surabaya yang nantinya akan ditampilkan di ajang Surabaya Fashion Parade 2020. undefined

Surabaya Fashion Parade (SFP) akan kembali digelar pada April 2020 mendatang. Selama empat hari ajang tahunan ke-13 ini, sangat bergengsi bagi para desainer Surabaya, Jakarta serta daerah lain di Indonesia, bahkan dari manca negara.

Di tahun ini akan mengambil tema Viable. Viable sendiri diambil dari Bahasa Inggris yang berarti mampu bertahan hidup dalam kondisi tertentu. Namun di tema ini lebih menitikberatkan pada sustainability bagi dunia fesyen di Indonesia.

Diakui Ketua Fashion Chamber (IFC), Alphiana Chandrajani, tema ini merupakan bentuk kepedulian para desainer pada bumi yang sudah mulai rusak. Para pelaku industri fesyen di seluruh dunia termasuk di Indonesia kini mulai digalakkan untuk mulai sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Sehingga green fashion yang dikampanyekan para pelaku bisa lebih optimal.

“Karenanya, dari 70 desainer yang terlibat selama empat hari, kami meminta semua semaksimal mungkin menggunakan bahan atau kain yang ramah lingkungan. Misalnya katun murni 100 persen, sutra dan sebagainya. Bukan lagi kain yang terbuat dari polister atau plastik,” ujar Alphiana.

Memang, ini sebuah langkah besar yang harus bisa diubah para pelaku industri. Apalagi menggunakan bahan katun atau sutra sangatlah mahal. Sehingga desainer membutuhkan pemikiran dua kali untuk membuatnya, karena bagaimanapun konsumen Indonesia masih menyukai baju-baju murah.

“Tapi pelaku harus memulai. Setidaknya kalau dulu bahan plastiknya lebih banyak, sekarang mulai dikurangi pelan-pelan. Meminimalisir penggunaannya, sampai nanti suatu titik semuanya tidak akan lagi memakai bahan kain dari plastik,” jelasnya.

Di SFP ini, Alphiana mengaku senang, para desainer mulai melakukan aksi peduli ini. Setidaknya, desainer tidak menyisakan bahan-bahan kain terlalu banyak. Sisa bahan mulai dimanfaatkan untuk dibuat asesoris pada baju yang dibuatnya.

Karena, kata Alphiana, sampai saat ini sampah terbesar itu dihasilkan dari industri fesyen dan makanan. “Sedih kan kita ikut terlibat dalam penimbunan volume sampah di Indonesia. Kalau sisa bahannya ramah lingkungan, bisa diurai dengan mudah, tapi kalau bahannya polister, tidak akan mudah terurai,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Alphiana juga menekankan pada peserta lomba yang akan tampil di ajang SFP 2020 ini, agar membuat baju dari yang sudah ada sebelumnya. Baju itu didesain ulang agar bisa tampil berbeda dari sebelumnya. Tujuannya agar baju yang sudah ada itu bisa dipakai kembali dan tidak lagi menjadi sampah.

Dian Apriliani, penggagas SFP mengaku selain 70 desainer dari Surabaya, Jakarta dan beberapa negara di Kawasan Asia, ajang ini juga akan diikuti para siswa dari sekolah-sekolah fasyen yang ada di Surabaya. “Kalau ditotal aka nada 100-an orang pelaku fesyen yang terlibat di ajang ini,” ungkap Dian.

Selama empat hari, ajang ini akan diisi oleh beberapa desainer sesuai dengan karakternya. Pada hari pertama 16 April 2020, parade busana-busana muslim. Hari kedua diisi hasil karya siswa-siswa sekolah fesyen dan mode. Hari ketiga diisi desain baju etnik urban. Dan hari keempat diisi oleh desain cocktail dan evening gown.

Bagikan

RELATED NEWS