Sekar Bumi Optimistis Penjualan Bisa Tembus Rp 3 Triliun
SURABAYA-Di tengah kondisi pandemic Covid 19, ternyata kondisi pasar ekspor udang dan produk olahan hasil laut beku ke Amerika Serikat cukup bagus. Kebtuhan tetap tinggi sehingga tidak terlalu terdampak meski ada pandemic Covid -19, dimana AS termasuk negara dengan jumlah positif corona terbesar di dunia.
Dengan kondisi itu jelas Harry Lukmito, direktur utama PT Sekar Bumi Tbk, perseroan tetap optimistis tahun 2020 ini mampu meningkatkan kinerjanya. Bahkan perseroan mematok penjualan tahun ini mampu menembus angka Rp 3 triliun.
“Saat ini kondisi pasar ekspor udang dan produk olahan hasil laut beku ke Amerika Serikat cukup bagus. Tidak terlalu terdampak adanya pandemic Covid 19,” katanya dalam paparan public tahunan PT Sekar Bumi Tbk secara online kemarin.
Karena itu jelas Harry Lukmito tahun ini kinerja perseroan mampu digenjot hingga penjualan bisa menembus angka sebesar Rp 3 triliun. Semester pertama tahun ini , pendapatan emiten berkode SKBM ini mencapai Rp 128 triliun naik signifikan 44,40 persen dibanding periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp 889,6 miliar. “Kalau moderat mungkin diangkat Rp 2,8 triliun. Tapi kami yakin bisa mencapai Rp 3 triliun tahun ini,” ujar Harry Lukmito.
Dijelaskan, dia mengaku bersyukur karena meskipun dibayangi pandemic Covid 19, namun ekspor ke Amerika masih stabil. Beberapa resto besar memang sempat tutup, namun pasar retail di super market justru naik sangat signifikan.
Sehingga kinerja pada semester pertama sangat bagus. Dia akan berusaha maksimal mempertahankan kondisi ini hingga akhir tahun ini. Sehingga target tercapai dengan baik. Hingga saat pasr ekpsor masih mendominasi dimana sekitar 95,3 persen total pendapatan perseroan berasal dari ekspor. Dan sisanya berasal dari pasar lokal yakni 4,70 persen.
“Sekitar 90 persen produk kami ekspor ke Amerika. Sisanya ke Jepang, Australia dan negara lainnya. Penjualan makanan hasil laut nilai tambah beku (frozen value added seafood) Rp 1,2 triliun . Sisanya Rp 49,28 miliar berasal dari penjuialan makanan olahan beku (frozen processed food),” jelasnya Harry Lukmito.
Harry Lukmito menambahkan tahun lalu, kinerja perseroan naik tipis 7,73 persen saja. Pendapatan naik dari Rp 1,95 triliun pada tahun 2018 menjadi Rp 2,1 triliun pada tahun 2019. Sekitar 91,32 persen kontribusi dari penjualan ekspor dan sisanya dari pasar lokal.
Sementara itu, Howard Ken Lukmito, direktur perseroan mengatakan, berbeda dengan pasar ekspor, kondisi pasar lokal justru mengalami koreksi sangat tajam akibat Covid 19. Pada Maret - April bahkan sempat drop 45 persen. “Namun sejak Januari hingga Juli, secara umum pasar turun 10 persen.”
Kedepan pihaknya akan fokus mengembangkan pasar e-commerce. Bahkan pihaknya telah melakukan kerjasama dengan beberapa platform market place utama di Indonesia. Selain itu juga gencar menggarap market retail dari modern market, traditional market dan reseller program.
“Sejak pandemi Covid 19, kami langsung gerak cepat melakukan diversifikasi market lewat penjualan online. Dan hasilnya, penjualan produk lewat e-commerce langsung naik lima kali lipat,” kata Howard Ken Lukmito.
