Q1/2020, Ekonomi Jatim Diprediksi Turun 0,25 Persen
Virus Corona menghentikan perdagangan Indonesia dengan China. Hal itu tentu saja berdampak pada perekonomian Jawa Timur. Karena ekspor Jawa Timur ke China selama ini sangat banyak. Karena itu Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur memprediksikan ekonomi di daerah ini pada triwulan I/2020 akan mengalami penurunan sekitar 0,25 persen.
Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Promosi Luar Negeri Kadin Jatim, Tommy Kaihatu mengatakan akan ada banyak industry di Jatim yang terganggu. Karena selama ini ketergantungan bahan baku dari China sangat besar.
Selain industri pariwisata, industri lain yang terdampak di antaranya adalah manufaktur, pengolahan dan juga ekspor. “Karena ekspor kita ke China juga sangat besar dan untuk mencari pasar baru itu butuh waktu. Dampak selanjutnya, Produk Domestik Regional Bruto kita juga akan ikut terganggu,” ujarnya.
Lebih lanjut ia mengatakan selama ini, sebagian besar bahan baku industri dalam negeri memang sangat tergantung dengan luar negeri. Dari 70 persen bahan baku impor, sekitar 50 persen lebih berasal dari China seperti biji plastik, baja dan mesin.
Sementara saat ini, seluruh China berhenti dan tidak ada aktivitas sama sekali akibat mengganasnya wabah virus corona di negara tersebut. Kadin Jatim telah melakukan konfirmasi atas kondisi di China dan dinyatakan selain Provinsi Wuhan, ada tiga Provinsi lagi yang telah ditutup, yaitu Provinsi Hainan, Provinsi Jiangsu dan Provinsi Guangzhou.
“Jadi sebenarnya menghentikan impor untuk sementara waktu ataupun tidak menghentikan itu sama saja, karena tidak dihentikan pun impor tidak bisa dilakukan karena disana tidak ada yang bekerja. Diliburkan hingga Senin mendatang dan akan kemungkinan besar akan diperpanjang lagi ketika kondisi masih belum terkendali,” jelasnya.
Hal tersebut dibenarkan salah satu importir mesin dan alat berat di Jatim, Agus Malik. Owner PT Golden Teknik ini mengaku mendapat order mesin dan sudah membuka Pre-Order (PO) di sana namun tidak dikirim hingga sekarang. “Ya karena tidak ada yang kerja. Aktivitas di sana berhenti total. Saya sudah melakukan koordinasi dan mereka mengatakan belum bisa mengirim,” kata Agus.
Di sisi lain, Tommy juga mengatakan bahwa untuk melakukan substitusi bahan baku dari China ke bahan baku dalam negeri tidak serta merta bisa dilakukan. Karena Indonesia tidak banyak memiliki industri hulu yang bisa diandalkan. Misalkan bijih plastik, sangat sulit untuk menemukan di Indonesia. Kalaupun ada, harganya jauh di atas harga bahan baku dari China.
“China memiliki tiga hal yang menjadikan mereka sebagai market leader. Pertama konsistensi kualitas, konsistensi harga dan konsistensi kuantitas. Ketiga hal inilah yang kemudian menjadikan China sebagai raksasa besar di dunia. Sementara industry dalam negeri sangat sulit untuk memenuhi tiga kriteria tersebut,” tegasnya.
Data Badan Pusat Statistik Jatim menunjukkan, impor non migas Jatim dari China pada 2019 mencapai US$ 5,872 miliar atau sekitar 337,43 persen dari total impor Jatim sapanjang 2019 yang mencapai US$ 18,930 miliar. Sementara ekspor non migas Jatim ke China sepanjang 2019 mencapai US$ 2,299 miliar, atau sekitar 16,19 persen dari total ekspor non migas Jatim di 2019 yang mencapai US$ 19,369 miliar.
Lebih jauh Tommy mengatakan bahwa pengalaman saat ini sebenarnya harus menjadi semangat bagi bangsa Indonesia untuk secepatnya membangun industri hulu. Karena sejak era Soeharto, industri hulu di Indonesia tidak banyak yang melirik. Selain karena investasi sangat besar, market juga lebih sulit dibanding menjual bahan mentah.
“Padahal kita memiliki sumber daya alam yang melimpah. Sudah saatnya kita bangkitkan industri hulu untuk menghilangkan ketergantungan Indonesia yang sangat besar pada luar negeri,” pungkasnya.
