Pandemi, Serapan Produksi Kopi Arabika Jatim Tak Maksimal
Pandemi Covid-19 juga membuat serapan produksi kopi arabika Jawa Timur tidak maksimal karena menurunnya permintaan pasar. Hal tersebut diakui Kepala Dinas Perkebunan Jatim Ir Karyadi.
Karyadi mengatakan produksi kopi arabika pada 2020 diperkirakan mencapai 13.900 ton yang tersebar di beberapa daerah sentra tanaman. Antara lain di Kabupaten Bondowoso, Situbondo, Jember, Lumajang, Probolinggo dan Pasuruan.
Kopi arabika sudah mulai panen pada awal bulan Juni 2020, tepat saat krisis pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia termasuk Jawa Timur. "Sehingga mengganggu pemasaran, karena belum banyak pedagang yang melakukan operasi pasar," terang Karyadi.
Karena itu pada awal panen di bulan Juni harga kopi arabika lebih rendah dibanding harga normal tahun-tahun sebelumnya. Misal untuk kopi glondong sempat hanya dihargai Rp 5.000,-/kg, padahal dalam kondisi normal bisa mencapai Rp 8.000,-/kg.
"Serapan produksi kopi arabika sangat kecil, beruntung saat ini masih awal panen, sehingga produksi masih kecil, sehingga dapat diantisipasi melalui kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur," imbuhnya.
Kebijakan tersebut berupa fasilitasi Kredit Dana Bergulir Program Tunda Jual yang disalurkan melalui kelembagaan petani kopi di bawah koordinasi Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) DPW Jawa Timur.
Secara kelembagaan sentra tanaman kopi arabika berkembang pada kawasan lintas kabupaten. Sehingga Kredit Dana Bergulir Program Tunda Kredit Dana Bergulir Program Tunda Jual akan menyasar Gapoktan Maju Mapan Jember yang bermitra kerja dengan kelompoktani di Kabupaten lain, yakni Bondowoso, Situbondo dan Probolinggo.
Gapoktan Maju Mapan juga memiliki program dengan sasaran mampu menampung produk kopi arabika sebanyak 2.667 ton glondong basah atau 400 ton green bean, sekitar 2,9 % dari perkiraan produksi kopi arabika Jawa Timur 2020.
