Ini Kesalahan yang Sering Dilakukan Start Up saat Awal Berdiri

Asih - Jumat, 19 Februari 2021 03:30 WIB
Ketua bidang Inkubator Bisnis dan Teknologi BPBRIN Universitas Airlangga Achsania Hendratmi undefined

Start up kini banyak bermunculan. Namun di tengah booming start up, banyak juga yang tidak bisa bertahan karena kesalahan yang dibuat pendirinya. Biasanya, kesalahan yang fatal dilakukan itu adalah, para pendiri sibuk mencari investor di awal mendirikan start up itu. Padahal itu tidak boleh dilakukan, karena bisa mengakibatkan engalami mental block.

Ketua bidang Inkubator Bisnis dan Teknologi BPBRIN Universitas Airlangga Achsania Hendratmi mengatakan sejarah start up di Silicon Valley banyak yang menggunakan modal sendiri terlebih dulu atau dengan meminjam dana dari pihak lain seperti keluarga dan teman.

Pada awal menjalankan bisnis para pendiri start up tersebut tidak tergantung dari hadirnya investor. Mereka fokus pada bagaimana produk mereka sesuai dengan target pasar dan diakuisi serta mendapatkan revenue.

“Barulah, start up yang sudah siap diakselerasi atau scaling up untuk menjadi lebih besar membutuhkan investor atau venture capital,” jelasnya.

Opini bahwa pada tahap awal pendirian start up membutuhkan investor atau pihak yang menanamkan modal dikhawatirkan membut bisnis tersebut tidak segera dimulai. Achsania menegaskan bahwa opini yang menganggap akan sulit mendirikan dan menjalankan usaha karena tidak memiliki modal adalah opini yang tidak benar.

Jika start up memang sudah siap untuk diakselerasi dan membutuhkan dana investor, maka tim start up khususnya CEO perlu untuk belajar dari pengalaman dan belajar dari berbagai pihak yang sudah berpengalaman.

Terdapat beberapa cara bagaimana mendapatkan investor menurut Achsania. Yaitu menghadiri business matching, mengikuti berbagai event hackathon, persentasi pitching di depan investor atau venture capital.

Berbagi pengalaman selama mendapingi start up mahasiswa, Achsania merasa bahwa selama ini ada banyak mahasiswa yang memiliki ide bisnis kemudian mengikuti berbagai skema hibah. Baik hibah internal maupun eksternal seperti lomba-lomba business plan. Namun hal yang disayangkan adalah, pada ujungnya mereka tidak melanjutkan usaha karena berbagai alasan.

“Jadi seakan-akan mereka adalah hibahpreneur semata. Hanya mengejar hibah pendanaan, kemudian tidak pure digunakan untuk mengembangkan bisnisnya,” lanjutnya.

Achsania juga merasa mental bahwa bisnis di awal harus memiliki modal dan mendapatkan investasi, karena jika tidak maka bisnis tidak bisa berjalan. Mental tersebut masih menjadi mental block yang umum di mahasiswa.

Kerenanya, Achsania menegaskan bahwa hal yang paling penting untuk dimiliki oleh mahasiswa dalam mendirikan start up bukanlah modal, bukan juga link bisnis, namun mental, semangat juang tinggi, pantang menyerah, selalu mencari jalan keluar, determinasi tinggi, dan sudah dari awal niat menjadi pebisnis atau pengusaha bukan karena coba-coba.

“Jadi istilah saya dalam mengikubasi start up, ada seleksi alam. Jika dari awal memang hanya coba-coba atau ikut tren maka begitu muncul permasalahan di jalan langsung menyerah dan berhenti, memilih menjadi karyawan atau menjadi pegawai yang lebih dianggap aman atau secure,” pungkasnya.

Bagikan

RELATED NEWS