Ekspor Meningkat, Defisit Neraca Perdagangan Jatim Menurun
Defisit neraca perdagangan Jawa Timur pada 2019 mengalami penurunan dibandingkan 2018. Pada 2019 mengalami defisit sebesar USD 3, 05 miliar, sementara pada 2018 sebesar USD 5,35 miliar.
Penurunan defisit perdagangan itu karena berbagai hal. Salah satunya karena ekspor Jatim yang meningkat. Khususnya perhiasan dan permata.
Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Satriyo Wibowo mengatakan, komoditas tersebut menyumbang ekspor senilai USD 3,24 miliar pada 2019. Nilai itu menyumbang 10,87 persen terhadap total nilai ekspor.
Secara pertumbuhan, ekspor perhiasan dan ppermatamengalami pertumbuhan positif, yakni 8,5 persen secara year on year (yoy). “Ekspor ini biasanya ke Swiss. Tapi trennya ekspor ke Swiss menurun karena ada perubahan permintaan,” kata Satriyo.
Selain perhiasan dan permata, komoditas lain yang juga mengalami pertumbuhan ekspor antara lain kendaraan dan bagiannya, bahan kimia organik serta daging dan ikan olahan.
Kinerja ekspor non migas Jatim tahun lalu hanya tumbuh 1,4 persen (yoy) menjadi USD 19,37 miliar. Sementara ekspor migas anjlok 28,49 persen (yoy) menjadi USD 918,74 juta. Total, ekspor Jatim naik sangat tipis yakni 0,49 (yoy) menjadi USD 20,28 miliar. “Kita memang sedang mengalami tantangan ekspor,” kata Satriyo.
Di sisi lain, impor turun cukup dalam. Nilai impor Jatim 2019 tercatat USD 23,73 miliar, atau turun 9,32 persen (yoy). Penurunan terjadi pada semua barang impor, baik bahan baku, barang modal maupun barang konsumsi. Impor bahan baku tercatat turun 10,16 persen, barang konsumsi turun 6,95 persen dan barang modal turun 4,07 persen.
Menurut Satriyo, penurunan ini dapat terjadi karena beberapa hal. Yakni, pertumbuhan industri yang melambat, serta substitusi bahan yang diimpor industri maupun barang konsumsi. “Jadi tahun lalu impor kita turun, ekspor kita tumbuh kecil dan cenderung stagnan,” tutupnya.
