Balita di Indonesia Rentan Terkena ISPA dan Diare Menular  

Asih - Selasa, 21 Juli 2020 15:15 WIB
seminar digital “Nutrisi untuk Imunitas, Kunci Tumbuh Kembang Optimal” yang diselenggarakan Nutriclub, Senin (20/7/2020). undefined

Infeksi saluran pernapasan akut dan diare menular banyak diderita anak usia di bawah lima tahun. Hal inilah yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak usia itu. Di Indonesia, anak balita usia nol hingga lima tahun merupakan golongan yang paling rawan terhadap bermacam-macam infeksi. Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018 menunjukkan bahwa infeksi dan malnutrisi masih umum ditemui.

Infeksi yang umum dialami anak-anak umumnya adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan gastroenteritis akut (diare). Prevalensi anak usia 1–4 tahun yang mengalami ISPA adalah 13,7% dan diare sebesar 12,8%.

Padahal, hal ini dapat dicegah dengan mendukung si Kecil memiliki daya tahan tubuh yang baik agar tubuhnya kuat melawan infeksi virus dan kuman di sekitarnya. Dalam acara seminar digital “Nutrisi untuk Imunitas, Kunci Tumbuh Kembang Optimal” yang diselenggarakan Nutriclub, Senin (20/7/2020), Dr dr Ariani Dewi Widodo, SpA(K) mengatakan sistem imunitas dibentuk sejak awal kehidupan dan akan berkembang menjadi lebih kuat dan lebih kompleks seiring dengan pertambahan usia anak.

Di sinilah peran orang tua untuk memastikan agar perkembangan imunitas optimal. Sistem imun yang terjaga menjadi bekal tubuh anak untuk tumbuh dan berkembang. Dikatakannya penyebab anak rentan terkena gangguan penyakit infeksi seperti ISPA dan diare salah satunya karena sel-sel usus pada anak masih renggang, mengakibatkan apabila ada kuman atau alergen akan mudah masuk melalui sel-sel tersebut.

“Selain itu, mikrobioma pada saluran cerna tidak berkembang dengan baik. Bakteri pada mikrobioma memiliki peran terhadap imunitas, nutrisi, dan perlindungan terhadap bakteri patogen. Dalam tubuh manusia terdapat sekitar 10-100 triliun mikrobioma dengan jumlah paling banyak terdapat di usus,” ungkap dr Ariani.

Lebih jauh mengenai mikrobioma, di kesempatan yang sama, Head of Departement of Pediatrics, Vrije Universiteit Brussel, Prof. Yvan Vandenplas, MD, PhD. memaparkan bahwa mikrobioma gastrointestinal (keseimbangan mikrobioma di dalam usus) yang sehat berperan sangat penting untuk mengembangkan sistem imunitas anak sejak dini.

“Mikrobioma merupakan seluruh ekosistem mikroba yang ada di dalam sebuah organ. Mikrobiota usus, bakteri baik bifidobacteria, berperan penting untuk mendukung sistem imun dengan memproduksi antibodi, mengontrol peradangan, mengencangkan sambungan usus dan mendorong toleransi terhadap makanan. Untuk itu, keseimbangan komposisi bakteri baik bifidobacteria harus dipelihara agar dapat terus memberikan manfaat dengan pemberian prebiotik,” papar Prof Yvan mengenai penelitiannya.

Penelitian menunjukkan nutrisi mengambil peran besar dalam menentukan keseimbangan mikrobioma yang ada di dalam usus. Lebih spesifik, prebiotik yang merupakan karbohidrat atau serat yang tidak dapat dicerna dan difermentasikan oleh bakteri dalam usus mampu merangsang perkembangan bakteri baik bifidobacteria.

“Kombinasi prebiotik FOS dan GOS dengan rasio 1:9 dapat meningkatkan jumlah bifidobacteria, menstimulasi pertumbuhan spesies bifidobacteria dan lactobacillus tertentu, mengurangi bakteri patogen, dan membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan. FOS dan GOS juga mampu membantu mendukung daya tahan tubuh dan mengurangi risiko infeksi. ” ungkap Prof Yvan.

Lebih lanjut Prof Yvan menjelaskan bahwa pada GIANT study yang dilakukan pada 767 anak sehat berusia di atas 1 tahun di 5 negara yang mengonsumsi susu pertumbuhan dengan prebotik lcFOS/scGOS dan n-3 LC PUFA ditambahkan ke dalam susu. Hasilnya adalah infeksi risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi susu sapi.

Bagikan

RELATED NEWS