TUNGGU LEVEL I, BARU PTM 100 PERSEN

Kamis, 17 Maret 2022 10:10 WIB

Penulis:Andri

A-PTM.jpg

SURABAYA I halojatim.com - Pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen di Kota Surabaya sementara dihentikan. Menyusul status kota tersebut yang sempat masuk ke Level 3  Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

"Sambil terus kami lakukan evaluasi. Mudah-mudahan level PPKM di Surabaya yang saat ini Level 2 terus turun ke Level 1 dan bisa menuju ke 100 persen PTM," kata Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya Yusuf Masruh kepada wartawan.

Saat ini, pembelajaran SD dan SMP di Surabaya, kata dia, masih menerapkan PTM 50 persen bergantian tanpa sesi dengan durasi 6 jam. Sedangkan 50 persennya, mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring.

Yusuf mengatakan, apabila nanti PTM diterapkan 100 persen, maka tentu di awal pola yang dijalankan tetap menyesuaikan dengan kondisi sekolah. Setiap sekolah, jata Yusuf, memiliki ruangan kelas dengan kapasitas yang berbeda.

"Kami acuannya tetap pada SKB 4 Menteri dan PPKM Inmendagri. Kalau sudah level 1, kalau memungkinkan 100 persen pakai shift, kami lakukan. Karena kondisi sekolah itu variatif, ada yang luasan kelas lebar, ada yang kecil," katanya.

Ketika nanti penerapan dengan pola shift itu tidak berdampak negatif, maka dimungkinkan PTM selanjutnya bisa dilaksanakan murni 100 persen. Di sisi lain, Yusuf  juga memastikan tetap melakukan evaluasi penerapan PTM 100 persen dengan pola shift tersebut.

"Kalau sudah PPKM Level 1, PTM diterapkan 100 persen pakai shift. Kami uji coba dulu itu dengan menyesuaikan kondisi ruang kelas. Kalau itu memungkinkan, maka dilakukan PTM 100 persen murni tanpa shift," katanya.
Yusuf  mengingatkan kepada pihak penyelenggara sekolah agar tetap memastikan Satgas Covid-19 mandiri maupun protokol kesehatan berjalan. Dengan asumsi yakni, ketika anak-anak atau guru datang ke sekolah, maka mereka harus dicek suhu tubuh dan mencuci tangan.

"Harapannya kalau suhu tidak sesuai standar (di atas 37,5 derajat) itu bisa langsung dikoordinasikan dengan Puskesmas. Kami akan terus evaluasi, karena ini kan untuk menumbuhkan kepercayaan orang tua terhadap bagaimana menitipkan anaknya di sekolah," katanya.  (*)