UMKM
Jumat, 29 Agustus 2025 05:21 WIB
Penulis:Asih
Editor:Asih
SURABAYA - Kebahagiaan menyelimuti Quddus Salam saat resmi diambil sumpahnya pada acara pengambilan Sumpah Dokter ke-13 di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Kamis (28/8).
Bagi Quddus, momen ini bukan sekadar pencapaian dirinya, tapi juga perjalanan berkesan yang penuh tantangan hingga akhirnya ia menjadi dokter pertama di keluarganya.
Sejak di bangku SMA, Quddus tidak pernah membayangkan dirinya akan memakai jas putih seorang dokter. Ia lebih tertarik dengan dunia bahasa dan sempat bercita-cita menjadi guru bahasa Arab. Namun, orang tuanya melihat potensi lain.
“Orang tua melihat saya unggul di pelajaran kimia. Dari situ mereka mengarahkan agar saya menjadi dokter. Awalnya saya hanya mencoba mengikuti, tapi Alhamdulillah sekarang saya justru jadi dokter pertama di keluarga,” tuturnya dengan senyum bangga.
Quddus tercatat sebagai dokter pertama dari keluarga yang mempelopori program Pusat Kesehatan Pondok Pesantrean (Poskestren) di Bangkalan.
Diakuinya, perjalanan yang dilalui tidak selalu mulus. Quddus sempat merasa berat menjalani studi, bahkan sempat ragu dengan pilihannya. Namun titik balik datang saat memasuki semester lima, ketika ia bertemu dengan mata kuliah yang berkaitan dengan kejiwaan.
“Sejak SMP saya suka baca tentang psikologi, tentang karakter orang. Ketika kuliah ada mata kuliah kejiwaan, saya seperti menemukan kembali apa yang saya senangi sejak dulu. Dari situlah saya mantap dan mulai benar-benar mencintai dunia kedokteran,” ceritanya.
Latar belakang keluarga Quddus yang agamis juga ikut membentuk arah pengabdiannya. Ayahnya adalah seorang kiai dan pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Al-Muhajirin di Bangkalan, Madura. Dari situ lahir gagasan besar: bagaimana pesantren bisa menjadi pusat penguatan kesehatan, bukan hanya pusat pendidikan agama.
“Awalnya saat pandemi Covid-19, saya dan teman-teman melakukan penelitian dan pengabdian di pondok. Dari situ saya coba membuat wadah. Akhirnya pondok saya bermitra dengan Unusa, dan membangun Poskestren (Pos Kesehatan Pesantren) di pondok saya,” jelas anak pasangan Lainul Qolbi Hamzah dan Elok Fauziyah itu.
Poskestren sendiri merupakan program yang digagas Fakultas Kedokteran Unusa sebagai bagian dari Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) di lingkungan pesantren. Program ini menjadi jembatan antara pendidikan agama dengan literasi kesehatan, sehingga para santri bisa lebih peduli pada pola hidup sehat.
Quddus bersama teman-temannya dari Unusa turut melibatkan banyak pihak, mulai dari mahasiswa, santri, hingga Babinsa (Bintara Pembina Desa) dan puskesmas setempat. Edukasi kesehatan diberikan tidak hanya kepada para santri, tetapi juga masyarakat sekitar pesantren.
“Kita aktif memberikan edukasi secara berkala. Tidak hanya kolaborasi antara Unusa dan pondok, tapi juga melibatkan pihak lain. Di Bangkalan, masih banyak masyarakat yang membutuhkan pemahaman dasar soal kesehatan,” katanya.
Materi yang diberikan pun beragam, mulai dari gizi seimbang, pemanfaatan obat tradisional, pencegahan penyakit menular, hingga pola hidup bersih. Setiap tiga bulan sekali, tim Unusa juga rutin turun langsung ke pesantren untuk mendampingi keberlanjutan program.
Program yang mulai diinisiasi Quddus sejak 2022 ini, kini semakin berkembang. Para santri telah membentuk tim khusus untuk mengelola Poskestren secara mandiri. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik nyata dalam menjaga kesehatan lingkungan pesantren.
“Bersyukur saat ini sudah ada tim sendiri dari anak-anak santri yang melanjutkan program. Jadi budaya hidup sehat di pesantren mulai terbentuk dengan baik,” ujar pria kelahiran Bangkalan, 26 April 2001 itu.
Lebih jauh, Quddus juga memperkenalkan sistem digitalisasi sederhana dalam pengelolaan kesehatan. Para santri dilatih untuk membuat semacam rekam medis, sehingga proses pencatatan kesehatan menjadi lebih rapi dan berkelanjutan.
“Alhamdulillah awareness santri soal kesehatan sangat meningkat. Dan orang tua saya sejak awal sangat mendukung adanya Poskestren ini. Pesan abah saya jelas: kita harus menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Itu yang selalu saya pegang,” ungkapnya haru.
Kini, setelah resmi menyandang gelar dokter, Quddus berkomitmen untuk terus mengembangkan Poskestren sekaligus memperluas pengabdiannya di masyarakat. Bagi Quddus, menjadi dokter bukan sekadar profesi, tetapi ladang ibadah dan jalan untuk membawa keberkahan.
Bagikan
UMKM
25 hari yang lalu
Unusa
2 tahun yang lalu