Pupuk Indonesia Jajaki Investasi dengan Rusia Demi Ketahanan Industri Nasional

Sabtu, 05 September 2026 13:09 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi [kanan] dan General Director of The Managing Organization JSC Ruschem, Davydov Eduard Malikovich [kiri] saat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Vladivostok, Rusia, Kamis, 3 September 2026.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi [kanan] dan General Director of The Managing Organization JSC Ruschem, Davydov Eduard Malikovich [kiri] saat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Vladivostok, Rusia, Kamis, 3 September 2026. (Pupuk Indonesia)

VLADIVOSTOK - PT Pupuk Indonesia (Persero) tengah mengeksplorasi potensi kerja sama strategis dengan pihak Rusia untuk mengembangkan fasilitas produksi amonia dan urea berskala global, Nakhodka Fertilizer Plant Phase 2 (NFP-2) di Primorsky Krai. Proyek tersebut dikembangkan oleh perusahaan holding asal Rusia, JSC Ruschem.

Penjajakan ini merupakan bagian dari strategi Pupuk Indonesia untuk memperluas pilihan sumber pasokan sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok. Di sisi lain, langkah tersebut juga membuka peluang bagi perusahaan untuk meningkatkan keterlibatannya dalam aset dan jaringan industri pupuk di tingkat global.

Penjajakan kerja sama kajian ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) untuk studi bersama (joint study) yang dilakukan dalam rangkaian Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia pada 3 September 2026.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan penjajakan kerja sama kajian dengan Rusia menjadi strategi untuk memperluas alternatif sumber produksi dan pasokan untuk meningkatkan resiliensi rantai pasok pupuk nasional. Penjajakan ini juga membuka potensi akses terhadap produksi amonia-urea berbasis gas dengan struktur biaya bahan baku yang kompetitif dan ramah lingkungan.

“Penjajakan kerja sama kajian ini merupakan salah satu opsi strategi jangka panjang Pupuk Indonesia untuk mengamankan akses bahan baku dan kapasitas produksi global. Hal ini sejalan dengan arahan Danantara agar Pupuk Indonesia makin berperan dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, sekaligus memperluas peran di industri pupuk global,” kata Rahmad.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan P. Roeslani dan Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi saat memberikan keterangan pers di Vladivostok, Rusia, Kamis, 3 September 2026.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan P. Roeslani, mengatakan penjajakan ini merupakan tindak lanjut konkret pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin dalam rangkaian EEF ke-11. Kerja sama ini membuka peluang investasi global bagi Pupuk Indonesia dan memperkuat ketahanan bahan baku serta industri nasional.

“Pupuk Indonesia ini performance-nya makin lama makin bagus, makin efisien, sehingga mempunyai potensi yang sangat besar untuk berinvestasi di Vladivostok dan dengan pihak Rusia. Diharapkan ini menjadi salah satu langkah strategis yang bisa memperkuat sektor ketahanan bahan baku kita dan juga ketahanan industri kita,” kata dia.

Nilai Strategis Kerja Sama

Rahmad Pribadi mengatakan pengalaman Pupuk Indonesia dalam mengolah gas untuk produksi amonia dan urea menjadi salah satu modal dalam mengkaji peluang kerja sama di Rusia. Pengalaman tersebut dinilai relevan dengan karakteristik proyek NFP yang berbasis gas alam.

NFP adalah proyek pembangunan kompleks industri metanol, amonia dan urea berskala global di Primorsky Krai, Rusia Timur, yang dimiliki oleh JSC Ruschem. Fasilitas ini direncanakan memiliki kapasitas produksi sekitar 1,8 juta ton metanol, 2 juta ton amonia, dan 3,5 juta ton urea per tahun, serta target commercial operation sekitar 2030.

Dari sisi lokasi, proyek NFP juga memiliki nilai strategis. Keberadaan Pelabuhan Vladivostok di Primorsky yang menghadap Samudera Pasifik membuka peluang bagi Pupuk Indonesia untuk memperluas akses ke pasar Asia-Pasifik, yang selama ini menjadi salah satu kawasan penting bagi aktivitas perdagangan perusahaan.

“Ini menjadi menarik karena Vladivostok menghadap Pasifik, kawasan yang selama ini memang menjadi pasar strategis Pupuk Indonesia,” kata Rahmad.

Keunggulan tersebut menjadi salah satu pertimbangan Pupuk Indonesia dalam melihat peluang pengembangan NFP-2 sebagai bagian dari upaya memperkuat daya saing dan resiliensi rantai pasok perusahaan.

Komitmen Terhadap Kajian Komprehensif

Penandatanganan MoU menjadi tahap awal bagi Pupuk Indonesia untuk mengkaji potensi pengembangan NFP-2 secara menyeluruh. Melalui kerja sama ini, kedua pihak akan melakukan feasibility study dan due diligence terhadap potensi proyek.

Kajian akan mencakup antara lain aspek teknis, keekonomian proyek, kepastian pasokan bahan baku, struktur pembiayaan, risiko proyek, serta aspek kepatuhan terhadap ketentuan hukum dan regulasi yang berlaku. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari prinsip Pupuk Indonesia dalam mengevaluasi setiap peluang pengembangan.