Senin, 25 Mei 2020 05:35 WIB
Penulis:Andri

Surabaya Raya masih memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Bahkan, sekrang sudah memasuki Tahap II
Tapi yang terjadi Minggu (24/5/2020) tak menunjukan keseriusan pelaksaan usaha untuk mencegah semakin meluasnya covid-19 tersebut. Penjagaan di sejumlah titik perbatasan Kota Surabaya dengan Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada hari pertama Lebaran malah longgar.
Warga dengan mudahnya melewati tiga titik pengawasan pertama di MERR Gunung Anyar, Pondok Candra, dan Pasar Gedangan. Tapi tidak ada pemeriksaan suhu badan, tidak ada pengecekan penumpang dan tidak ada petugas medis yang berjaga.
Arif Fathoni yang juga Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Surabaya lantas mempertanyakan jika adanya rencana PSBB Tahap III. "Lalu PSBB Tahap III mau pakai metode apa?. Semoga tidak, mestinya Gubernur Jatim sudah dapat laporan objektif bahwa PSBB Tahap I dan II, warga hanya dapat kerugian ekonominya, tapi pendisiplinan masyarakat tidak tercapai," katanya kepada wartawan.
Hal ini terbukti petugas gabungan di titik pengawasan di Bundaran Waru (Perbatasan Surabaya-Sidoarjo) harus memaksa ratusan pengendara kendaraan bermotor tidak melanjutkan perjalanannya masuk ke Kota Surabaya pada hari pertama Lebaran di tengah pemberlakuan PSBB.
Langkah itu diambil oleh petugas gabungan dikarenakan ratusan pengendara yang didominasi oleh sepeda motor berpelat W itu tidak memiliki tujuan jelas saat diperiksa oleh petugas gabungan.
"Sebaiknya diganti saja dengan mengintensifkan edukasi kepada masyarakat tentang bagaimana mutasi virus dan cara-cara penyebarannya baik melalui pertemuan verbal maupun media-media agitasi yang lain hingga tercipta kesadaran kolektif," kata Arif.
Kalau kesadaran kolektif masyarakat suah terbangun, maka masyarakat akan meningkatkan kewaspadaan dini dengan sendirinya. Masyarakat sudah dipaksa melalui PSBB Tahap I dan II, ternyata tidak berhasil, maka sudah saatnya diganti dengan pendekatan yang berbeda.
Bagikan