Senin, 20 Januari 2020 23:19 WIB
Penulis:Asih

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Jawa Timur punya potensi melakukan ekspor lebih besar. Sebab, AS, Eropa dan negara-negara lain banyak yang berminat pada produk-produk Jatim. Terutama, produk makanan dan minuman, aksesori dan produk fashion.
Hal ini diungkapkan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jatim Difi Ahmad Johansyah. “Kita sudah mendorong perbankan untuk menyalurkan kredit ke pelaku UMKM yang berorientasi ekspor. Semestinya ke depan bisa tumbuh lagi ekspornya,” ucapnya.
Dia juga berharap agar pasar UMKM lebih terbuka dengan adanya kredit yang bunganya sudah mulai menurun.
Ekspor barang non migas dari Jatim tahun lalu hanya naik tipis. Kinerja ekspor non migas Jatim hanya tumbuh 1,4 persen secara year on year (yoy) menjadi USD 19,37 miliar. Ini menandakan kondisi ekspor yang masih sulit tumbuh.
Perang dagang dan persaingan dengan barang dari negara-negara lain cukup memengaruhi kinerja ekspor. Ekspor barang ke Amerika Serikat (AS) misalnya, hanya tumbuh 1,78 persen. Ekspor ke Uni Eropa bahkan turun 0,95 persen. Eskpor ke Jepang juga anjlok 11,06 persen.
Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Satriyo Wibowo mengatakan, ekspor barang dari Jatim ada yang menurun, ada yang naik.
Barang ekspor yang turun misalnya perhiasan, minya petroleum mentah, kayu, alas kaki dan udang vanamel.
Ekspor barang-barang ini mengalami permintaan yang turun, dan juga kondisi industri yang sangat bersaing secara global.
Menurut Satriyo, Jatim harus bisa meningkatkan kinerja ekspornya agar defisit dagang bisa berkurang. “Kita punya potensi ekspor perhiasan, mebel, alas kaki dan barang-barang lainnya,” ujarnya.
Dia berharap ke depan ekspor barang-barang ini bisa meningkat. Sebab barang-barang tersebut adalah barang yang mempunyai nilai tambah yang tinggi. Juga, mempunyai serapan tenaga kerja yang banyak.
Bagikan