Pemprov Jatim Puji Sidoarjo dan Gresik saat PSBB

Jumat, 08 Mei 2020 07:01 WIB

Penulis:Andri

Penyemprotan disinfektan kepada pengendara sepeda motor di Surabaya
Penyemprotan disinfektan kepada pengendara sepeda motor di Surabaya undefined

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sudah berlangsung sepekan lebih di Surabaya Raya. Penilaian pun sudah diberikan.

Hasilnya,  Kabupaten Sidoarjo dan Gresik mendapatkan pujian dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jawa Timur dibandingkan Surabaya. Pertimbangannya pasien terkonfirmasi positif di Surabaya masih terus tercatat naik.

Penambahan positif setiap hari masih naik hari per hari. PDP (pasien dalam pengawasan) naik, terkonfirmasi positif naik. Jadi saya kira perlu gerakan upaya agresif di Surabaya,"  kata Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Penangan Covid-19 Jatim dr Joni Wahyuadi di Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Kamis (7/5/2020).

Covid-19 di Surabaya. katanya, sangat infeksius, sangat menular. Hasil evaluasi dari kasus konfirmasi di tiga daerah masih naik terus. Surabaya yang paling tinggi diikuti Kabupaten Sidoarjo dan Gresik.

"PDP pasien dirawat untuk Surabaya, Sidoarjo dan Gresik sudah mulai turun. Trennya di Sidoarjo dan Gresik menggemberikan, cuman trennya masih kalah dengan juaranya Surabaya yang trennya masih naik. Ini masih perlu fokus pasien perlu perawatan," kata Joni.

Joni yang juga Direktur Utama RSU dr Seotomo ini menambahkan, di Gresik dan Sidoarjo pasien dalam perawatan (PDP) turun dan orang dalam pemantauan (ODP) naik. Sehingga bisa diartikan pemantauan yang dilakukan kedua daerah itu cukup bagus.

"Di Surabaya terbalik. ODP turun, hasil kegiatannya turun, PDP-nya naik, konfirmasinya naik. Jadi perlu upaya yang lebih agresif lagi di Surabaya," katanya.

Angka kematian karena Virus Corona di tiga daerah yang menerapkan PSBB juga masih tinggi. Joni menambahkan, penerapan PSBB tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Apa yang disampaikannya tentang perkembangan update persebaran dan penanganan Covid-19 tidak ada kaitannya dengan unsur politis.

"Memang PSBB tidak mungkin pemerintah berjalan sendiri, mestinya bareng-bareng menggerakkan rakyatnya melakukan phsyical distancing, sosial distancing, mengenakan APD seperti masker, cuci tangan yang bersih. Anda bisa lihat sendiri bagaimana di Surabaya, saya nggak perlu cerita," katanya.

Ia juga menyebut, kasus di Sidoarjo dan Gresik memang lebih sedikit dibandingkan dengan Surabaya. Upaya di kedua daerah tersebut lebih berhasil dibandingkan dengan Surabaya.

"Surabaya naiknya tinggi. Upayanya harus lebih tinggi dibandingkan dengan Sidoarjo. Mohon maaf ini kajian ilmiah dan tidak ada kaitannya dengan politis," kata Joni.