Merubah Gaya Hidup Bisa Hindari Ancaman Penyakit Kritis

Kamis, 16 Januari 2020 06:26 WIB

Penulis:Asih

dr. Chandra Wijaya
dr. Chandra Wijaya undefined

Kesehatan menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia. Karenanya, menjaga kesehatan menjadi satu hal penting. Banyak faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan manusia, antara lain gaya hidup, globalisasi dan perubahan iklim.

Menurut dr Chandra Wijaya dari Siloam Hospital, masyarakat perlu mengantisipasi ancaman penyakit kritis ini dengan mengubah gaya hidup dan Iebih menyadari ‘mahalnya’ kesehatan. "Penyakit kritis dapat berimplikasi pada aspek psikologis, sosial hingga finansial yang dapat menggoyahkan stabilitas ekonomi dan masa depan keluarga," ujar Chandra di Surabaya Rabu (15/1/2020).

Dia juga mengingatkan masyarakat tidak hanya terpaku untuk menghindari suatu penyakit tertentu. Sebab, penyakit kritis dapat menyerang siapa saja.

Sementara itu, Head of Product Development Prudential Indonesia, Himawan Purnama, menjelaskan, asuransi kondisi kritis saat ini terbatas pada diagnosis jenis penyakit. PRUTo'p dan PRUTop Syariah menawarkan konsep baru perlindungan kondisi kritis yang berfokus pada perawatan, tindakan, atau ketidakmampuan permanen yang terjadi akibat kondisi kritis.

Hal tersebut yang menjadikan PRUTop dan PRUTop Syariah unggul di kelasnya karena kedua produk ini mampu melindungi kesehatan dan finansial masyarakat Indonesia secara menyeluruh dan memastikan mereka hidup lebih tenang.

Sebagai asuransi tambahan pelengkap, masyarakat yang berusia 6 sampai 65 tahun dapat menikmati perlindungan ganda jangka panjang secara total ini hanya dengan menambahkan atau membeli paket PRUTop dan PRUTop Syariah dengan Asuransi Tambahan PRUCrisis Cover Benefit Plus 61 (Syariah).

Asuransi ini memberikan perlindungan kondisi kritis tahap akhir atau paket PRUTop dan PRUTop Syariah dengan Asuransi Tambahan PRUEarIy Stage Crisis CoverPlus (Syariah) yang memberikan periindungan kondis kritis sejak tahap awal.

Untuk diketahui, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2018, beberapa prevalensi Penyakit Tidak Menular Jawa Timur berada di atas rata-rata nasional, seperti penyakit stroke 12,4% (rata-rata nasional 10,9%) dan kanker 2,17% (rata-rata nasional 1,79%).

Tak hanya itu, penyakit diabetes melitus di wilayah Jawa Timur juga masih tinggi yaitu 2% (rata-rata nasional 1,5%) dan Surabaya merupakan kota dengan prevelansi yang cukup tinggi di Jawa T imur untuk kasus ini melebihi 3%.