MENKO PUJI PENDONOR 10 KALI PLASMA KONVALESEN

Rabu, 17 Februari 2021 01:28 WIB

Penulis:Andri

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy  saat mengunjungi Unit Tranfusi Darah Palang Merah Indonesia Kota Surabaya, Selasa.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy saat mengunjungi Unit Tranfusi Darah Palang Merah Indonesia Kota Surabaya, Selasa. undefined

Apresiasi diberikan kepada dua warga SurabayaLuki Handoko dan Agus Eko Nirno. Keduanya telah 10 kali melakukan donor plasma konvalesen.

''Saya mengucapkan terima kasih atas donor plasmanya, semoga menjadi amal jariyah para penyintas nantinya," kata Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy kepada Luki dan Agus saat mengunjungi Unit Tranfusi Darah Palang Merah Indonesia Kota Surabaya, Selasa.

Muhadjir mengakui bahwa kebutuhan plasma konvalesen terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia. Sehingga berpotensi meningkatnya jumlah calon pendonor bila kesembuhan semakin meningkat.

"Penggalangan pendonor plasma konvalesen akan terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan saudara kita yang masih terpapar Covid-19, sebagai bentuk rasa syukur bagi yang sudah sembuh dan meningkatkan gotong royong kita sebagai Bangsa Indonesia," katanya.

Salah satu pendonor, Luki Handoko, mengatakan dia sempat kritis usai dinyatakan Covid-19. Dia bahkan harus merasakan sesak nafas tanpa adanya penanganan medis saat isolasi di rumahnya.

"Awalnya saya demam, batuk kering dan setelah berobat ke dokter batuknya makin parah. Akhirnya saya dinyatakan PDP dan harus pulang karena rumah sakit penuh. Setelah positif saya dibawa ke Rumah Sakit Menur, sementara istri dan anak tanpa gejala dikirim ke rumah sakit lapangan," kata warga Tandes ini.
Setelah sembuh  pada Juli 2020, Luki rutin mendonorkan darah untuk diambil plasmanya hingga 10 kali pengambilan darah. Setiap 14 hari setelah donor, ia harus menjalani screening untuk memeriksa kondisi antibodi-nya apakah masih mencukupi untuk didonorkan.

Meskipun tidak bisa mendonorkan plasma lagi, Luki bangga karena sekarang masyarakat juga telah paham bahwa penyintas Covid-19 bisa membantu menyembuhkan pasien Covid-19 lainnya, sehingga tidak ada diskriminasi yang diterimanya di masyarakat.