Marak Fintech Ilegal Diperlukan Literasi Keuangan

Rabu, 29 Januari 2020 23:20 WIB

Penulis:Andri

 Ilustrasi pinjaman online atau fintech
Ilustrasi pinjaman online atau fintech undefined

Masih maraknya kasus investasi bodong membuat Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan, masyarakat masih membutuhkan literasi keuangan. Di Jawa Timur dia mencontohkan bahkan kasus besar investasi bodong sedang ditangani Polda Jatim.

Karenanya saat memberikan sambutan pada Acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan dan Serah Terima Jabatan Kepala OJK Regional 4 Jawa Timur di Surabaya, Selasa, (28/1/2020), dia menginstruksikan seluruh Bupati dan Walikota agar bersama Otoritas Jasa Keuangan menjalankan Fungsi perlindungan konsumen melalui kegiatan edukasi keuangan sehingga terwujud Jatim Well Financial Literate. 


"Investasi bodong lagi happening di Jawa Timur, jadi antara tiga M fungsi OJK bagaimana Mengatur, Mengawal dan Melindungi akan sangat dibutuhkan, literasi keuangan sangat dibutuhkan dan bisa lebih luas. Investasi ilegal fintech sangat susah dibendung karena semua terkoneksi secara digital," tuturnya.

"Tetapi saat yang sama tugas Kita memberikan literasi keuangan kepada masyarakat baik yang belum bankable hingga kepada mereka yang sangat establish di bidang ekonomi. Dari investigasi investasi bodong yang sedang ditangani Polda Jatim, kebanyakan korban adalah orang-orang yang mampu berpikir rasional," imbuh Khofifah kembali.


Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, Heru Kristiyana, dalam sambutannya menyampaikan bahwa di tengah penurunan pertumbuhan ekonomi global di sepanjang tahun 2019, secara umum stabilitas makroekonomi Indonesia masih tetap terjaga. Dan pertumbuhan ekonomi nasional masih tercatat 5,02% di kuartal III 2019 dan diharapkan pada akhir tahun masih di atas 5%. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada kuartal III 2019 adalah sebesar 5,32%, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional. 

"Hal ini tidak terlepas dari peran pembiayaan oleh Industri Jasa Keuangan di Jawa Timur. Kredit Perbankan sampai dengan posisi November 2019 tumbuh 3,9%. Jumlah emiten di Jawa Timur yang melakukan penghimpunan dana di Pasar Modal meningkat menjadi 37 emiten, adapun total Dana yang dihimpun dari 3 emiten yang melakukan penawaran umum perdana (IPO) tahun 2019 mencapai sebesar Rp136,8 miliar,"jelasnya.

Jumlah investor saham meningkat signifikan sebesar 34,3% dan jumlah investor Reksa Dana meningkat sebesar 93,7% dari tahun lalu, terutama investor retail. Industri Keuangan Non Bank di Jawa Timur juga meningkat, Premi Asuransi tumbuh 0,7% dan Piutang Perusahaan Pembiayaan tumbuh sebesar 5,9%.

"OJK menuangkan kebijakan strategis sektor jasa keuangan untuk lima tahun ke depan dalam Master Plan Sektor Jasa Keuangan tahun 2020-2024. Terdapat 5 (lima) kebijakan strategis untuk diimplementasikan di tahun 2020. Yaitu Peningkatan skala ekonomi industri keuangan, mempersempit regulatory dan supervisory gap antar sektor jasa keuangan, transformasi digital sektor jasa keuangan, mempercepat penyediaan akses keuangan serta mendorong penguatan penerapan market conduct dan perlindungan konsumen dan pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah," kata Heru.

Dia menjelaskan sepanjang tahun 2019, OJK Regional 4 Jawa Timur telah melakukan upaya yang masif dan berkesinambungan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat Jawa Timur guna meningkatkan literasi keuangan dalam mewujudkan Jatim Well Financial Literate. Upaya peningkatan literasi keuangan kepada masyarakat Jawa Timur dilaksanakan melalui 194 kegiatan sosialisasi kepada masyarakat, menginisiasi Program Si-Pinter Keuangan dengan dukungan beberapa universitas di Jawa Timur, serta penerbitan Seri Buku Edukasi Keuangan Syariah.

Sementara itu, upaya peningkatan inklusi keuangan di Jawa Timur selama tahun 2019 dilakukan antara lain melalui program business matching TPAKD (Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah) untuk UMKM, mendorong pendirian 15 Bank Wakaf Mikro (BWM) dan perluasan Layanan Keuangan Tanpa Kantor Dalam Rangka Keuangan Inklusif