Mahasiswi Jepara Wakili Indonesia di Forum Internasional

Kamis, 17 September 2026 11:03 WIB

Penulis:Andri

Editor:Andri

WhatsApp Image 2026-09-16 at 12.58.34.jpeg

JEPARA I halojatim –  Jepara bakal punya wakil di sebuah kegiatan internasional.  Tsamrotul Ilmi, mahasantri Ma’had Aly Amtsilati, Jepara, terpilih sebagai salah satu delegasi International Conference Santri Mendunia (ICSM) Batch #7, sebuah forum internasional yang mempertemukan santri dan generasi muda dalam ruang akademik, kebudayaan, dan dialog lintas negara.

 

Kegiatan itu bakal diadakan 25–30 November 2026 dengan rangkaian kegiatan di Malaysia, Singapura, dan Thailand. Agendanya mencakup forum konferensi, kunjungan pesantren dan keagamaan, kunjungan universitas, kunjungan KBRI, serta berbagai agenda pengembangan jejaring dan wawasan internasional.

 

Keikutsertaan Ilmi dalam forum tersebut menjadi kesempatan untuk membawa perspektif santri Indonesia ke ruang yang lebih luas. Sebagai mahasantri Program Studi Bahasa dan Sastra Arab di Ma’had Aly Amtsilati, dia melihat perkembangan global bukan sebagai sesuatu yang perlu dihindari, melainkan sebagai ruang yang perlu dihadapi dengan kapasitas keilmuan dan identitas yang kuat.

 

‘’Saya mengangkat tema Santri as Cultural Diplomats: Preserving the Islamic Heritage of Nusantara in the Era of Globalization,’’ katanya dalam rilis yang dikirim ke media ini. 

 

Tema tersebut, ungkapnya, berangkat dari perhatian terhadap keberadaan warisan Islam Nusantara di tengah arus globalisasi serta posisi santri sebagai generasi yang tidak hanya menjaga tradisi. Tetapi, terang Ilmi, sapaan karib Tsamrotul Ilmi, juga memiliki peluang untuk memperkenalkannya dalam ruang global.

 

“Bagi saya, kesempatan ini bukan sekadar mengikuti forum internasional. Saya ingin membawa perspektif bahwa santri juga memiliki peran dalam menjaga dan memperkenalkan warisan Islam Nusantara di tengah perkembangan global,” ujar Ilmi.

 

Menurutnya, kemampuan santri untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman perlu berjalan beriringan dengan kemampuan menjaga nilai dan tradisi yang telah diwariskan. Karena itu, forum internasional dapat menjadi ruang bagi santri untuk belajar, berdialog, sekaligus memperkenalkan kekayaan intelektual dan budaya Islam yang berkembang di Nusantara.

Selain menjalani perkuliahan, Ilmi juga aktif dalam kegiatan organisasi, kepesantrenan, serta pengajaran di lingkungan pesantren. Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk mengikuti forum yang melibatkan peserta dari berbagai latar belakang dan membuka ruang interaksi lintas budaya.

 

Keikutsertaan dalam ICSM juga diharapkan tidak berhenti pada pengalaman personal. Ilmi berkomitmen untuk membawa kembali pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama kegiatan agar dapat dibagikan kepada lingkungan pendidikan dan pesantren.

 

“Saya berharap pengalaman yang saya dapatkan nantinya tidak berhenti pada diri saya sendiri. Saya ingin membawa pulang wawasan, pengalaman, dan jejaring yang bisa dibagikan kembali kepada teman-teman santri dan lingkungan pendidikan,” lanjutnya.

 

Melalui kesempatan tersebut, Ilmi berharap semakin banyak generasi muda pesantren yang berani mengambil bagian dalam ruang global tanpa kehilangan identitas dan akar tradisinya. Baginya, menjadi santri di era global bukan hanya tentang mempertahankan apa yang telah diwariskan, tetapi juga tentang bagaimana warisan tersebut dapat dipahami, dikomunikasikan, dan diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.

 

Saat ini, Ilmi tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti seluruh rangkaian ICSM Batch #7 sekaligus mengupayakan dukungan dari berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pendidikan, pengembangan santri, kebudayaan, dan pengembangan generasi muda. (*)