Kampus Ubaya Tembus Final Basket Campus League, Tantang Ciputra dan Cendrawasih

Selasa, 28 April 2026 20:00 WIB

Penulis:ifta

WhatsApp Image 2026-04-28 at 19.57.22.jpeg
Tim Universitas Surabaya berhasil lolos ke Babak Final Campus League 2026 - Basketball Regional Surabaya, setelah mengalahkan Tim Universitas Negeri Surabaya dengan poin 87-20.

SURABAYA, Halojatim- Kompetisi Basket Campus League memasuki partai final dengan mempertemukan tim-tim terbaik dari kategori putra dan putri. 

Basket Campus League musim perdana di Regional Surabaya ini sudah dimulai sejak Rabu (22/4), di GOR Basket Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Ajang bergengsi ini diikuti ratusan student-athlete yang berasal dari 17 perguruan tinggi, terdiri dari 16 tim putra dan 8 tim putri. 

Pada babak semifinal, Selasa (28/4), dari sektor putri Universitas Ciputra Makassar memastikan diri melaju ke final regional menantang Universitas Surabaya (Ubaya).

Sementara di sektor putra, Universitas Cendrawasih masuk partai pamungkas untuk berduel juga dengan Ubaya.

Pada laga Regional Playoffs atau semifinal pertama, Tim Putri Universitas Ciputra Makassar tampil solid dan sukses mengandaskan perlawanan Universitas Airlangga dengan skor 52-39. 

Di pertandingan berikutnya giliran wakil Papua, Tim Putra Universitas Cendrawasih mampu meraih hasil gemilang melawan Universitas Negeri Malang (UM) dengan skor meyakinkan 92-63. 

Kedua hasil tersebut jadi bukti bahwa tim dari luar Pulau Jawa mampu mengimbangi dominasi kampus-kampus unggulan basket di Jawa Timur.

Hujan skor mewarnai partai semifinal ketiga yang mempertemukan Tim Putri Universitas Surabaya (Ubaya) dan Universitas Brawijaya (UB). 

Tampil nyaris sempurna, Ubaya mampu melibas UB dengan skor mencolok 105-19. Sejak tip-off, Ubaya memang bermain agresif. 

Hingga akhir quarter kedua Ubaya mampu meledak dengan raihan 47-14. Usai turun minum, UB berupaya memberikan perlawanan, namun tetap kesulitan menembus pertahanan rapat lawan. Justru Ubaya yang sukses menjaga intensitas permainan. Di kuarter penutup Ubaya sukses menjaga jarak sekaligus mengamankan tiket ke final.

“Pertandingan hari ini saya belum benar-benar puas dengan permainan anak-anak. Karena lawan-lawan yang dihadapi juga belum semuanya maksimal. Saya melihat masih hal-hal yang akan terus kami evaluasi untuk meningkatkan kualitas permainan,” ungkap pelatih Ubaya, Wellyanto Pribadi dalam jumpa pers usai pertandingan yang diterima redaksi.

Evelyn Fiyo jadi motor serangan Ubaya di partai semifinal ini. Pemain timnas basket 3x3 yang sukses meraih medali emas SEA Games 2025 Filipina ini mencatatkan 18 poin dan tampil trengginas sepanjang laga. 

Sementara itu kapten tim Mayviana Lysandra Tandiono memilih untuk fokus pada pertandingan final. 

Ia mengamini pernyataan sang pelatih untuk terus memperbaiki kualitas permainan. 

“Persiapannya kami harus lebih percaya satu sama lain juga. Evaluasi di games sebelumnya juga terus banyak koreksi juga dari game tadi dan enggak boleh meremehkan lawan,” sebutnya. 

Di pertandingan semifinal terakhir, Tim Putra Universitas Surabaya (Ubaya) menegaskan diri sebagai raja kampus basket di Provinsi Jawa Timur. 

Melengkapi kesuksesan tim putrinya, kali ini tim putra Ubaya juga mengantongi tiket final setelah menaklukkan tuan rumah, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) 87-20. 

Kemenangan ini kian manis bagi Ubaya lantaran sejauh ini mereka selalu tampil impresif dan belum tersentuh kekalahan. 

Kekuatan Tim Ubaya dalam pertandingan ini terletak pada kedisiplinan dalam defense dan efektif saat menyerang. Sejak quarter pertama, Unesa dibuat kesulitan mengembangkan permainan berkat pressing ketat. 

Ubaya menutup first half tanpa hambatan dengan 46-7. Selepas jeda, tim asuhan pelatih Ivan Widianto Tjahjono ini tak mengendurkan tekanan. 

Tidak ada kesempatan diberikan bagi Unesa untuk memperpendek jarak poin. Hingga buzzer berbunyi, Ubaya mengunci kemenangan untuk menantang Universitas Cendrawasih (Uncen) di laga final regional.

Kapten Ubaya Albert Richard merasa timnya sudah siap untuk menghadapi Uncen di partai final. 

Dalam jumpa pers usai pertandingan, ia menyebut regenerasi antara pemain senior ke pemain junior yang selama ini berjalan di tim basket Ubaya menjadi salah satu faktor kualitas permainan yang terus terjaga. 

Albert berharap timnya tetap solid untuk meraih podium tertinggi Campus League Basket Regional Surabaya. 

“Kami tidak pernah meremehkan musuh, kami selalu memberikan effort 100 persen, kami juga fokus mengikuti arahan Coach Ivan,” tegasnya.

Dari sisi pelatih, Ivan Widianto Tjahjono mengakui timnya tampil sangat solid di pertandingan ini. 

Ada peningkatan dari sisi defense yang mampu diterjemahkan dengan apik oleh anak asuhnya di lapangan. 

Namun, ia juga menyebut menghadapi Uncen di partai pamungkas membutuhkan strategi yang berbeda untuk bisa memastikan gelar juara di genggaman. 

“Strategi khusus kami pasti ada, karena kami juga cukup paham karakternya Tim Uncen bermain itu seperti apa. Jadi kami siapkan strategi bagaimana memecah full press dari mereka,” jelas Ivan. 

Surabaya Ibukota Basket

Sementara itu dari sisi penyelenggaraan, Head of Competition Campus League, Dave Leopold, mengatakan Surabaya layak menjadi “ibukota basket” sebab kuota peserta di regional ini terpenuhi. 

Sebanyak 16 tim putra dan 8 tim putri ambil bagian dalam Regional Surabaya walau rentang kualitas antar tim cukup beragam. 

Dave menilai itu hal yang wajar karena ini adalah tahun pertama penyelenggaraan Campus League (CL). 

Selain itu basketball adalah olahraga pertama yang dipertandingkan di regional perdana pula. 

Itu sebabnya sangat wajar jika kualitas tim kata dia masih sangat beragam dan belum semuanya berada di level yang kompetitif.

“Justru melalui Campus League ini proses pembinaan dan pemetaan kualitas tim mulai bisa terbentuk. Saat liga ini sudah berjalan secara konsisten dalam 3–5 tahun ke depan, akan terlihat dengan jelas tim mana yang benar-benar siap bersaing dan mana yang masih perlu berkembang,” kata Dave saat ditemui di GOR Basket Universitas Negeri Surabaya.

Kompetisi Campus League memang bukan hanya soal hasil pertandingan saat ini, tapi juga tentang membangun ekosistem, budaya kompetisi, dan peningkatan kualitas basket kampus secara bertahap dan berkelanjutan. ***