JATIM-JATENG BAHAS BERSAMA SUNGAI BENGAWAN SOLO

Rabu, 30 September 2020 14:20 WIB

Penulis:Andri

Sungai Bengawan Solo yang melintas di sepanjang Jawa Tengah dan Jawa Timur
Sungai Bengawan Solo yang melintas di sepanjang Jawa Tengah dan Jawa Timur undefined

Sungai Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa. Sungai itu melintas di dua provinsi, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tak salah jika kedua provinsi perlu membahas bersama.

 

Untuk itu, Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jatim langsung menjembatani kegiatan  pertemuan antara Pemprov Jatim dan Jateng serta Kementerian PUPR terkait aliran DAS bengawan Solo. Dalam pertemuan atau sinergitas pemprov Jatim dan Jateng berharap aliran Bengawan Solo yang melintas dari Jateng ke Jatim secepatanya harus bisa memberi manfaat untuk masyarakat di wilayah DAS Bengawan Solo, dan menghilangkan kekhawatiran akibat aliran Bengawan Solo berupa banjir dimasa hujan dan kekeringan dimasa kemarau.

 

Inilah salah satu kesepakatan dan inisiatif yang muncul dalam acara diskusi - Forum Komunikasi (Sinergitas) Pemprov Jatim dan Jawa Tengah Dalam Pengelolaan Dan Penanganan Dampak Sungai Bengawan Solo - yang di gelar Komisi D DRPD Jatim,  28 - 30 September 2020 di Solo Jawa Tengah.

 

Acara yang dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua DPRD Jatim, Anwar Sadar ini menghadirkan nara sumber yaitu Gubernur Jateng Gandar Pranowo, Wagub Jatim Emil Elestianto Darrdak, Kementrian PUPR, Kemenko Maritim dan Investasi yang hadir secara virtual.

 

Anwar Sadad dalam sambutannnya mengingatkan bahwa ada tanggung jawab pelayanan agar keberadaan sungai Bengawan Solo ini bisa member manfaat positif bagi masyarakat sekitar sungai, baik untuk kebutuhan air bersih, air minum dan pertanian.

 

"Ini tugas kita memberi manfaat positif kepada masyarakat DAS Bengawan Solo, jangan lagi dampak seperti yang selama ini dirasakan berupa banjir. Maka jika ada sinergitas yang yang sustainability ada kesinambungan pemanfaatan   bagi masyarakat. Air sungai Bengawan Solo ini, bisa digunakan untuk mandi dan cuci, serta bahan baku air minum," kata Sadad. 

 

Sesuai program Sustanable Development Goals (SDGs) 2030, kata dia, memuat program pembangunan berkelanjutan untuk keselamatanBumi. Salah satunya menjamin ketersediaan air bersih untuk kebutuhan hidup manusia. Apalagi, kata Sadad, saat ini Jatim dan Jateng adalah lumbung pangan nasional, dan banyak pertanian sepanjang Bengawan Solo yang mengandalkan aliran sungai Bengawan Solo ini.

 

"Jatim dan Jatim adalah penopang utama pangan nasional, dan aliran ini menjadi tumpuan masyarakat untuk pertanian. Maka keberadaannya sangat luar biasa bagi nasional. Maka kita wajib menjaga kebaradaan air di sungai ini untuk anak cucu kita," kata Sadad. 

 

Sementara itu Wagub Jatim, Emil Dardak yang menjadi nara sumber secara daring, menyambut positif sinergitas ini untuk menemukan solusi tepat persoalan klasik yang selalu terjadi. Saat ini, katanya, hampir 69% air yang lewat begitu saja dan tidak bisa dimanfaatkan.

 

‘’Hanya 31%, yang dimanfaatkan untuk industri, perkotaan dan pertanian. Maka kami punya beberapa porgram sebagai solusi yaitu, optimalisasi pemanfaatan air yang belum termanfaatkan, pengelolaan sumber daya air, secara integritas dengan mengurangi resiko bencana,  serta program one river, one plan and one management. Maka kami mendukung jika memang ada upaya sinergitas dua provinsi ini," kata Emil.

 

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, saat berkesempatan memaparkan bab kebijakan atas Bengawan Solo mengaku surprise dengan sinergitas yang dihadiri oleh DPRD Jatim dan Jateng serta Pemkab dan Pemkot yang wilayahnya di lewati sungai ini. "Ini keren dan bagus, ada inisiasi dua dewan untuk mencari solusi. Ini diskusi rakyat. Kami jadi nyaman, karena jika mau ambil kebijakan sudah di back up oleh Dewan. Apapun namanya kami siap dukung," kata Ganjar.

 

Ganjar juga menyampaikan idenya agar ada otoritas khusus yang tangani Bengawan Solo secara lengkap, agar kalau ada masalah bisa dicarikan solusi tanpa menyalahkan daerah satu dan lainnya.