ISDIANTONO, Macan Arema Yang Kini Tekuni Pelatih SSB

Senin, 14 September 2026 05:55 WIB

Penulis:Andri

PENDOWO CUP 2026 (343 of 471).jpg
Isdiantono, pelatih SSB yang pernah membela klub-klub besar di Indonesia.

Dia pernah masuk jajaran bek kiri terbaik di Indonesia. Di masa jayanya, dia membuat klub-klub yang dibela bersaing di papan atas.

--

RAMBUTNYA masih gondrong. Namun, sudah tidak setebal dulu dan mulai tumbuh uban. Lelaki yang bernama Isdiantono itu pun sudah tidak lagi bermain. Meski pada Sabtu (5/9/2026), dia ada di Lapangan Pendowo, Sukodono, Sidoarjo. 

‘’Saya dampingi anak-anak kecil ini. Saya menjadi pelatih di sekolah sepak bola di Sidodadi,’’ ungkap Isdiantono.

  Ya, sebenarnya menekuni dunia kepelatihan sekolah sepak bola atau SSB termasuk hal yang baru baginya. Apalagi, dia terjun langsung sebagai pelatih. 

Sebelumnya, lelaki asli Banyuwangi itu pernah menekuni dunia fotografi dan kuliner. Saat masih aktif, Isdianto mempunyai hobi memotret. Bahkan, kamera dan lensanya cukup mahal. Setelah itu, lelaki yang semasa aktif bermain berposisi sebgai bek kiri itu pernah membuka warung kopi di kawasan Sukodono, Sidoarjo. Sayang, seiring perjalanan waktu, bisnisnya itu dia tinggalkan dan sekarang ditempati orang lain. 

  Situasi inilah yang membuat sosok yang kini berusia 48 tahun ini kembali terjun ke sepak bola. Pernah diajak membantu rekannya menangani sebuah klub sepak, akhirnya Isdiantono menjadi pelatih kepala. Meski itu di level sekolah sepak bola. 

  ‘’Sekarang saya menjadi pelatih kepala. Butuh proses dan banyak belajar meski di level sekolah sepak bola,’’ ucap Isdiantono.

  Dia berharap dasar-dasar sepak bola yang diberikan bisa mencetak pesepakbola berkualitas. Seperti halnya dia semasa menjadi pesepakbola.

  Karir Isdiantono di lapangan hijau masuk kategori gemilang. Berawal dari klub kampung halamannya, Persewangi Banyuwangi, Isdiantono kemudian menarik minat klub papan atas Indonesia, Gelora Dewata Bali. Dari sinilah perjalanannya di sepak bola bayaran dimulai. Ketika Gelora Dewata pindah ke Sidoarjo, Jawa Timur, dia ikut. Bahkan, saat menjadi nama Deltras, Isdiantono tidak tergantikan.

  Dia kemudian mencari tantangan baru di Arema. Namanya tercatat saat klub berjuluk Singo Edan itu menjadi juara Piala Indonesia 2005. Dari Arema, Isdiantono ke Persisam Samarinda dan mengangkat klub asal Kalimantan Timur tersebut ke kasta tertinggi. Karirnya terus meningkat ketika pindah ke Persijap Jepara. 

   Kini, Isdiantono hanya bisa mengenang masa jayanya. Tapi ilmu yang dimiliki dia berikan kepada para anak didiknya di sebuah sekolah sepak bola yang baru berdiri. (*)