Dorong Kajian Ilmiah Berbasis Lokal sebagai Dasar Pembuatan Kebijakan

Sabtu, 05 Desember 2020 15:37 WIB

Penulis:Asih

Ahli Toksikologi Unair, Shoim Hidayar.
Ahli Toksikologi Unair, Shoim Hidayar. undefined

Kajian ilmiah terkait produk tembakau alternatif diperlukan. Kajian ini sebagai dasar pembuatan kebijakan berbagai pihak sebelum produk tembakau alternatif ini ‘dimasyarakatkan’.  Karena kenyataannya, fakta ilmiah yang ditemukan dalam kajian literatur sistematik ini secara garis besar menunjukkan penurunan profil risiko paparan senyawa berbahaya dan berpotensi berbahaya penggunaan produk tembakau alternatif karena kealpaan proses pembakaran di dalamnya.

Selain itu, dapat disimpulkan juga bahwa nikotin merupakan zat yang secara alamiah ada dalam daun tembakau dan dapat bersifat adiktif, namun nikotin tidak bersifat karsinogenik. Ahli Toksikologi Universitas Airlangga (Unair) Shoim Hidayat meminta pemerintah untuk mendorong kajian ilmiah berbasis lokal yang lebih komprehensif untuk mendapatkan fakta absolut tentang produk tembakau alternatif.

Hal ini, menurut Shoim lantaran Indonesia masih minim melakukan riset terhadap produk tembakau alternatif, termasuk produk tembakau yang dipanaskan. Fakta akurat yang berlandaskan kajian ilmiah tersebut dapat menjadi landasan pemerintah dalam merumuskan kebijakan untuk mengatur produk inovasi ini.

“Kami berharap pemerintah mulai mendorong penelitian laboratoris untuk menguji kandungan senyawa toksik pada aerosol maupun pada tubuh pengguna produk tembakau yang dipanaskan. Penelitian berbasis dalam negeri ini diharapkan turut melibatkan pelaku usaha, konsumen, akademisi dari berbagai universitas, maupun Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Hasil dari kajian ilmiah tersebut dapat menjadi sumber informasi bagi pemerintah sekaligus acuan dalam membuat kebijakan bagi produk tembakau alternatif yang dibedakan dari rokok,” ujarnya dalam diskusi terbatas dengan media tentang tembakau alternatif, Kamis (4/12/2020).  

Mempertimbangkan fakta-fakta ilmiah tersebut, Shoim berpendapat pemerintah harus bersikap objektif dalam membentuk kebijakan produk tembakau alternatif yang berbeda dari rokok, termasuk peringatan kesehatan yang dibedakan dengan rokok yang dibakar. Tujuannya agar konsumen perokok dewasa termotivasi untuk beralih ke produk minim risiko kesehatan ini.

“Dengan tingkat risiko kesehatan yang terbukti rendah ini, apakah tepat jika regulasi produk tembakau alternatif, terutama peringatan kesehatan, disamakan dengan rokok? Saya memperhatikan di negara-negara lain itu peringatan kesehatannya berbeda dengan rokok dan hanya menitikberatkan pada efek nikotin yang dapat menyebabkan ketergantungan. Kebijakan ini sesuai dengan penelitian-penelitian yang ada dan membantu konsumen mengetahui informasi yang benar,” tandas Shoim.