Dokter Ini Teliti Stemcell  untuk Atasi Fistula Vesikovagina atau Beser

Senin, 03 Februari 2020 22:56 WIB

Penulis:Asih

dr Eighty Mardian Kurniawati saat menerima ijazah dari Prof Dr dr Budi Santoso, SpOG (K) disaksikan Dekan FK Unair Prof Dr dr Soetojo, SpU (K) usai sidang terbuka doktor beberapa waktu lalu.
dr Eighty Mardian Kurniawati saat menerima ijazah dari Prof Dr dr Budi Santoso, SpOG (K) disaksikan Dekan FK Unair Prof Dr dr Soetojo, SpU (K) usai sidang terbuka doktor beberapa waktu lalu. undefined

Fistula vesikovagina atau dikenal  dengan beser , biasanya dialami para wanita yang sudah pernah melahirkan. Mereka biasanya tidak pernah bisa mengendalikan rasa ingin pipisnya. Bahkan, itu semakin tidak bisa ditahan ketika melihat kamar mandi atau toilet.

Kondisi ini banyak diderita pasien di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Dengan banyaknya kasus ini, membuat dr Eighty Mardian Kurniawati, SpOG (K), dosen dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) mencoba melakukan penelitian untuk mendapatkan gelar Doktor.

Penelitian yang terangkum dalam disertasi yang berjudul “Pengaruh Seeding Sel Punca Amnion terhadap PDGF, VEGF, EGF Occludin, Claudin-4, dan Karakterisasi Histologi Proses Penyembuhan Luka Model Fistula Vesikovagina”, dr Eighty  membahas secara gamblang apa itu beser.

Fistula vesikovagina yang dibahas dalam disertasi itu merupakan bagian dari fistula vesikourogenital yakni suatu keadaan ditandai fistel antara kandung kemih dengan vagina yang menyebabkan rembesan urin keluar melalui vagina.

Kasus Fistula vesikovaginalis biasa muncul di negara berkembang. Menurut dr Eighty angka kesembuhannya tidak terlalu besar tercatat di RSUD Dr Soetomo, hanya 65 – 90 persen yang berhasil dan sisanya gagal.

Yakni dalam hitungan 40 kasus Fistula Vesikovagina, 25 orang telah dioperasi dengan tingkat keberhasilan 65 persen.

Padahal di Jawa Timur ahli Urigenokologi Rekontruksi Vagina termasuk banyak dan mumpuni tetapi kegagalan masih menjadi bayang-bayang. Hal ini dikarenakan penanganan fistula vesiko vagina memiliki tingkat kesulitan yang tinggi serta masih baru diteliti dan menjadi tugas rumah bagi dunia kedokteran.

“Tingkat kegagalan masih tinggi meskipun ditangani oleh ahli di bidangnya. Dan jika dalam operasi pertama gagal maka operasi kedua akan jauh lebih sulit,” ujarnya.

Karenanya, penelitian ini diyakini mampu memberikan hasil penyembuhan luka yang lebih baik dari pada prosedur umum yang biasa dilakukan untuk Fistula Vesikovagina.

 “Prosedur yang bisa dipakai adalah menjahit lubang yang menyebabkan rembesan itu. Hasil penyembuhan jahitannya sangat lama dan kadang tidak terlalu bisa maksimal. Karenanya saya menggunakan stemcell khususnya punca amnion yang mampu memberikan seeding dan merepair sel sel yang ada agar meregenerasi lebih cepat sehingga penyatuan dan penutupan lubang dapat maksimal,” terang dr Eighty.

Dr Eighty pun mengaku bahwa memang sudah seharusnya dirinya melakukan penelitian tersebut karena ia berkecimpung dalam spesialisasi obserti yang menghasilkan banyak sel punca Amnion yang bermanfaat sekali dalam mempererat jaringan.

“Pemberian sel punca amnion setelah penjahitan itu membuktikan penyembuhan yang lebih baik dengan parameter growth factor dari Occludin dan Claudin-4 yang bertugas sebagai pemererat jaringan dan sel sel,” tukasnya.

Penelitian dr Eighty ini masih dilakukan pada hewan kelinci sebagai media prakteknya. Ia mengatakan bahwa pengunaan kepada manusia masih harus melalui banyak langkah dan prosedur yang harus dilakukan.

“Di luar negeri pun masih belum ada prosedur penggunaan sel punca ini kepada manusia. Jadi masih banyak yang harus dilakukan dan dikaji untuk sampai bisa diterapkan kepada manusia secara luas,” pungkasnya.